Bersumber dari : http://www.abyfarhan.com/2013/01/cara-membuat-like-box-facebook-melayang_4.html#ixzz2N3w9dmOh Follow us: @aby_farhan on Twitter
Lomba

Minggu, 10 Maret 2013

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran, (4)teknik pembelajaran, (5) taktik pembelajaran, dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan pengertian istilah – istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.



Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Strategi pembelajaran.

Dari pendekatan pembelajaran  yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam Strategi Pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1.    Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.    Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.    Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.    Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1.    Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.    Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3.    Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4.    Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning(Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008).

Metode pembelajaran

Jadi, metode pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Teknik Pembelajaran

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Taktik Pembelajaran.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Model Pembelajaran

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran.  Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
==========
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)
=========
Repost  from  :   Akhmad Sudrajad


Sabtu, 09 Maret 2013

Mengapa dinding gelas es teh kita bisa basah ?


 Udara di sekeliling gelas penuh dengan uap air. Uap air dapat berubah wujud menjadi embun atau titik-titik air jika didinginkan sampai pada suhu tertentu yang disebut titik embun.


Pada segelas es teh udara di sekitar gelas terutama yang menempel pada dinding bagian luar gelas mendapatkan pendinginan dari es. Akibat pendinginan tersebut uap air berubah menjadi embun dan menempel pada dinding bagian luar gelas. Peristiwa inilah yang menyebabkan dinding bagian luar segelas es teh menjadi basah.


Oleh  :  Ratna Widayat
SMP Negeri 2 Jumantono





Minggu, 03 Maret 2013

Sosialisasi Ujian Tahun 2013

Sosialisasi Pelaksanaan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional.

Dalam rangka menghadapi Ujian Sekolah dan Ujian Nasional semua sekolah (dalam tulisan ini adalah SMP) tidak terkecuali sekolah-sekolah yang tergabung dalam Kelompok Kerja III atau Kelompok 4J (Kecamatan Jumantono, Jumapolo, Jatipuro dan Jatiyoso) Kabupaten Karanganyar  mengadakan sosialisasi Ujian Sekolah dan Ujian Nasional tahun pelajaran 2012/2013.

Sosialisasi tersebut dimulai dari sosialisasi kepada guru dilanjutkan kepada siswa dan  kepada masyarakat (orang tua siswa). Sosialisasi dilaksanakan berpedoman pada Peraturan badan Standar Nasional Pendidikan Nomor : 0020/P/BSNP/I/2013  tentang Tentang Prosedur Operasi Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah, Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah,  Sekolah Menengah Atas Luar Biasa, Sekolah Menengah Kejuruan, serta Pendidikan Kesetaraan Program Paket A/Ula, Program  Paket B/Wustha, Program Paket C, dan Program Paket C KejuruanTahun Pelajaran 2012/2013.
Sosialisasi kepada guru lebih ditekankan bahwa pada Ujian Nasional tahun 2013 setiap siswa akan mendapat soal yang “berbeda”.  Kata berbeda di sini bisa ditafsirkan bahwa antara paket soal satu dengan yang lain tidak berbeda 100% item-itemnya. Bisa saja komposisi nomernya hanya di acak sedangkan sebenarnya item-itemnya sama. Selain itu yang berbeda lagi adalah bahwa antara lembar soal dan lembar jawab sudah merupakan satu kesatuan atau merupakan pasangan yang telah diberi barcode. Oleh karena itu antara lembar jawab dan lembar soal tidak boleh tertukar. Apabila tertukar mengakibatkan kekeliruan sistem komputer dalam melakukan scan dan jawaban siswa yang seharusnya benar bisa terbaca salah. Jika terjadi ada lembar jawaban atau lembar soal, maka semuanya harus ditukar dengan lembar jawaban dan lembar soal baru dengan barkode yang sesuai
Perubahan yang lain adalah bahwa pelaksanaan Ujian Nasional yang tahun-tahun sebelumnya dimulai jam 08.00 tahun ini dimulai jam 07.30 WIB. Sehingga pengawas diharuskan datang lebih pagi ( 45 menit sebelum UN dimulai seperti tercantum dalam TATA TERTIB PENGAWAS UJIAN NASIONAL (UN) TAHUN PELAJARAN 2012/2013 yang dikeluarkan BSNP). Tentang jumlah pengawas dan personil pengawas masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Jumlah pengawas setiap ruangan ada 2 (dua) orang yang diambil dari sekolah lain dalam satu kelompok kerja (pokja). Pengawas juga sangat diharapkan bekerja secara profesional.


Sosialisasi kepada siswa lebih menekankan kepada sosialisi kriteri kelulusan siswa dari satuan pendidikan (sekolah), persiapan (fisik, mental, materi)  dan pelaksanaan Ujian Nasional.  Sehubungan dengan adanya perbedaan soal untuk setiap siswa maka persiapan harus lebih diintensifkan. Dihimbau kepada seluruh siswa bahwa UN tidak perlu dilaksanakan dengan rasa takut, khawatir cemas dan sebagainya. Hadapi dengan perasaan biasa-biasa saja namun disertai dengan persiapan fisik, mental dan materi yang matang.
Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah:
1.        menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
2.        memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok  mata pelajaran  kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;
3.        lulus Ujian Sekolah/Madrasah;
4.        lulus Ujian Nasional.
a) Kriteria kelulusan peserta didik dari UN untuk SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/SMK, Program Paket B, dan Program Paket C apabila nilai rata-rata dari semua NA mencapai paling rendah 5,5 (lima koma lima) dan nilai setiap mata pelajaran paling rendah 4,0 (empat koma nol).
b)       NA sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diperoleh dari gabungan Nilai S/M/PK dari mata pelajaran yang diujikan secara nasional dan Nilai UN, yaitu dengan pembobotan 40% Nilai S/M/PK dari mata pelajaran yang diujikan secara nasional dan 60% dari Nilai UN.  (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2013  tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/ Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional pasal 6 ayat 2 dan 3)




Selain itu diharapkan siswa siswa menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Kurangi aktivitas diluar yang tidak berguna. Perbanyak belajar.  Kurangi juga aktivitas di dunia maya yang tidak berguna dan membuang-buang waktu. Misalnya menggunakan jejaring sosial untuk chatting dan sejenisnya sampai lupa waktu.
Sosialisasi kepada orang tua menekankan pada pengawasan dan bimbingan orang tua kepada putera puterinya menjelang dan selama pelaksanaan Ujian. Di rumah orang tua mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan puetra puterinya. Waktu yang banyak itu hendaknya dipergunakan untuk memberi nasihat, arahan, bimbingan sehingga dalam menempuh ujian tahun ini putera puterinya dapat berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Selanjutnya dihimbau agar orang tua menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus dari SMP. Mengingat SMP masih merupakan pendidikan dasar.
Demikian sekilas berita dari MGMP Pokja III. Selamat bekerja dan tetap semangat..!!!